Sejak mengenal kebutuhan, kita mengenal uang. Kita pun melabelkan uang menjadi kebutuhan. Bersekolah lalu bekerja dengan harapan membantu mendapatkan uang. Kita menginginkan uang namun kurang mempelajari ilmunya.

Kita dengan sombongnya merasa tahu uang, padahal masih buta keuangan. Bertameng “Saya sudah bisa menghasilkan uang” menjadikan kita merasa tak perlu mempelajari ilmu uang.  

Artikel sebelumnya : Ciri-ciri Buta Keuangan

Ketidaktahuan tentang ilmu keuangan menjadikan seseorang buta keuangan.  Akhirnya, kita terus bekerja untuk uang, terperangkap dalam jebakan uang. Ada impian bebas finansial namun tak tahu langkah awal harus kemana dan bagaimana. Begitulah akibat dari buta keuangan.

Tentunya kita menginginkan keluar dari buta keuangan. Cara jitu keluar dari kebutaan yaitu mencari tahu penyebab lalu mencari solusinya. Berikut 3 ulasan singkat penyebab buta keuangan dan solusinya.

1. Kesalahpahaman Ilmu Uang

Ilmu uang berasal dari pendidikan keuangan. Banyak sekali orang berpola pikir pendidikan keuangan hanya untuk anak ekonomi saja. Bahkan anak ekonomi juga berpola pikir pendidikan keuangan hanya untuk anak akuntansi.

Kesalahpahaman pola pikir inilah menyebabkan semua orang buta keuangan. Akibatanya, jika terjadi krisis uang menyalahkan atasan, aturan, kebijakan, bahkan Tuhan. Tak hanya itu, ketidaktahuan tentang uang menambah ketakutan akan kekurangan uang lalu menutup peluang lain yang terbuka.

“Melek keuangan membantu keberanian mengambil peluang mendapatkan uang dan mengembangkanya”

Teman senja

Meluangkan waktu untuk mengenal ilmu uang adalah satu-satunya cara keluar dari  ketidaktahuan dan buta keuangan.

2. Kesalahan Mengukur Standar Kekayaan

Sering sekali uang dikaitkan dengan kekayaan. Mengistilahkan kekayaan dengan kebebasan finansial. Kemudian mengukur standar kekayaan dengan bentuk yang terlihat oleh mata hingga tak sadar malah membutakan keuangan kita.

Rumah, mobil mewah, dan tanah dianggap sebagai standar orang kaya. Akhirnya kita berlomba-lomba memiliki hal-hal tersebut untuk mejadi kaya seperti para orang kaya. Padahal dibalik benda-benda tersebut ada pajak yang dikeluarkan setiap tahun, ada biaya perawatan serta penurunan nilai bangunan dan mobil.

Kita melupakan arti kekayaan sendiri. Menurut Buckminter Filler pemilik hak paten kubah geodesic tahun 1961. Kekayaan diukur dari berapa uang yang dihasilkan oleh uang yang dimiliki.

Pengukuran tersebut berasal dari sebuah pertanyaan

“Jika saya berhenti bekerja hari ini, berapa lama saya akan bertaha hidup?”

3. Merasa Sudah Cukup Tahu

Merasa tahu adalah penyakit ilmu. Sumber penyakit ini dari pernah merasakan pengalaman pahit manisnya uang. Lalu mengatasnamakan kemalasan belajar dengan menyebutkan “Saya sudah tahu”. Padahal pengalaman yang ada hanya setetes ilmu dari seluas lautan.

Teruslah haus akan ilmu, coba minum dan teguklah. Bagikan juga agar ada jejak, tidak menguap lalu menghilang.

Selain itu, sumber penyakit lainya adalah tidak mau mengambil risiko. Ada yang sudah tahu ilmunya namun tak mempraktekanya. Ada rasa ketikpercayaan atau ketidakberanian masuk ke dalam hal yang berbeda. Mereka sama saja masih buta hanya berbeda kondisi saja.

Tiga ulasan singkat tadi hanya pendapat pribadi penulis. Tentunya masih banyak penyebab lain mengapa orang membutuhkan uang tetapi buta keuangan. Jika ada kritik dan saran silahkan tulis dikolom komentar. Semoga bermanfaat.

#ODOPBatch7 #onedayonepost

Sumber referensi

Robert T. Kiyosaki Rich Dad Poor Dad. Pdf

Baca juga

Kesalahan Fatal dalam Bersyukur

Mengeluh itu Wajar