Teman Senja

Hai, bagaimana senjamu hari ini?

2 Pertanyaan untuk Melawan Malas

Siapa sih yang tidak malas?

Aku tidak percaya ada orang yang tak malas selama hidupnya masih bernafas. Serajin-rajinnya orang pasti ada rasa malas.  Misal saja, malas tiduran, bosan sekali kalau tidak ada kerjaan,selalu ingin terus bergerak. Bahkan, ada yang merasa tidak berguna saat seharian rebahan saja.

Duh, itu mah namanya malas produktif.
Kenyataanya, kebanyakan dari kita lebih memilih malas melakukan yang harusnya mulai dikerjakan. Sudah begitu, ada saja alasan yang datang untuk mendukung kemalasan. Ada alasan yang positif seperti me time sampai alasan kreatif: sedang dalam save energy mode.

Semua alasan itu sangat susah sekali untuk dilawan.
Kalau dipikir-pikir, jika kita renungkan secara mendalam, melawan malas itu mudah, sulitnya ada di alasan logis yang mendukung kemalasan. Semakin logis alasan yang dibuat, semakin pikiran kita membenarkan sikap bermalas-malasan. Akhirnya rebahan pun berlanjut.

Aku pun menyadari hal tersebut saat bermalas-malasan. Ingin sekali keluar dari rasa malas yang berlebihan. Kuubek-ubek semua tulisan di google dan buku, mencari tips bagaimana mengatasi malas. Lalu, atas seizinNya. Dua pertanyaan lewat di depan mataku saat  membaca buku karya seorang milyader sekaligus penulis buku best seller.

“Tanpa mengapa, bagaimana menjadi mustahil” Robert T. Kiyosaki 

Kalimat yang berisi dua pertanyaan tersebut seperti tips dalam buku-buku motivasi pada umumnya. Namun, gaya bahasa yang ia gunakan sangat mengena. Secara tersirat, ia memberikan dua pertanyaan untuk melawan kemalasan. Dua pertanyaan ini juga ampuh untuk melawan rasa pesimis, keraguan, dan ketidakmungkinan terwujudnya impian besar. Dua pertanyaan tersebut adalah meangapa dan bagaimana.

Mengapa dan bagaimana

Bagi Kiyosaki, menentukan jawaban mengapa lebih penting dari pada mencari jawaban bagaimana. Banyak orang bertanya kepada orang-orang sukses tentang bagaimana melakukan sesuatu, seperti:
Bagaimana cara agar terus semangat?
Bagaimana mengatasi kemalasan?
Bagaimana agar menulis konsisten?

Para orang sukses pun memberikan serentetan cara melakukan sesuatu, namun para penanya sering tidak menerapkanya. Hal ini wajar saja karena para penanya tersebut tidak mempunyai mengapa  yang cukup kuat.
Jadi, mari tentukan mengapa melawan malas kita sebelum mencari cara mengatasinya. Penjabarannya bisa ditambah dengan kata seperti ini  mengapa saya ‘melakukan sesuatu’?. Lalu ubah ‘melakukan sesuatu’ dengan kondisi yang kita inginkan.
Contoh
Mengapa saya menulis konsisten?
Mangapa saya berolahraga?
Menagapa saya ingin sukses?

Setelah menemukan mengapa yang cukup kuat, mudah bagi kita menentukan bagaimana cara melakukan yang sesuai dengan kondisi kemalasan masing-masing. Mudah bukan?

Sekilas, cara ini seperti menentukan tujuan. Lalu menggunakan tujuan untuk melawan malas. Namun, jika dicermati dan diteliti, ada perbedaan yang cukup signifikan.

Menggunakan tujuan membuat kita fokus pada akhir, kefokusan ini kadang menguji kesabaran kita, lalu mengundang kemalasan, kemudian bersama-sama menggoda kita untuk melakukan cara yang paling mudah.
Kita lupa bahwa akhir perwujudan tujuan bergantung pada  jalan yang kita pilih dan lalui. Jika memilih jalan mudah, siap-siap saja menerima hasil yang tak sesuai dengan tujuan. Bukankah hasil tak mengkhianati proses?

Berbeda sekali dengan menggunakan mengapa sebagai kekuatan. Pertanyaan mengapa menarik alasan-alasan kecil berkumpul menguatkan mengapa. Semakin banyak alasan kecil yang berkumpul semakin besar pula tambahan kekuatan mengapa. Hal baiknya, setiap alasan kecil membentuk jembatan menuju mengapa yang kuat. Alasan-alasan kecil juga membantu kita menemukan bagaimana cara.

Contoh sederhana

Tujuanku menulis adalah untuk menguatkan identitasku sebagai manusia yang pernah hidup.
Mengapa menulis?
Mengapa yang cukup kuat  untuk membagikan apa yang kubaca.
Alasan lainnya untuk meninggalkan jejak baik, mengikat apa yang kupelajari, menghasilakan uang, memenangkan lomba, dan menulis sebuah buku.

Bagaimana cara melakukanya?
Caranya dengan memulai menulis yang aku sukai, mencari dan masuk ke komunitas kepenulisan, menambah wawasan atau mencari event lomba menulis.

Saat malas melanda, aku mengingat lagi Mengapa yang cukup kuat  aku menulis. Lalu mencari lagi cara untuk mewujudkannya.
Begitulah dua pertanyaan yang menurutku cukup ampuh melawan malas. Semoga bermanfaat.

“Tantangan terbesar yang kamu hadapi adalah berjuang melawan keraguan dan kemalasanmu sendiri.  Keraguan terhadap diri sendiri dan kemalasanmulah yang menentukan dan membatasi siapa dirimu.  Kalau kamu ingin mengubah keadaanmu, kamu harus mengatasi keraguan terhadap diri sendiri dan kemalasanmu.  Keraguan terhadap diri sendiri dan kemalasanmulah yang membuat kamu tetap kecil.  Keraguan terhadap diri sendiri dan kemalasanmulah yang membatasimu dari kehidupan yang kamu inginkan.”
-Ayah Kayanya Robert T. Kiyosaki-

#ODOPBatch7

« »

© 2020 Teman Senja. Theme by Anders Norén.