Teman Senja

Hai, bagaimana senjamu hari ini?

Fans Qarun: Pecinta Dunia

Sudah sangat sering aku berdecak kagum dengan orang-orang yang sukses. Teman-teman lain juga suka membicarakan keberhasilanya. Termasuk aku yang ikut nimbrung dengan perasaan “Aku ingin seperti dia.”

Hidup sukses memang impian setiap orang bukan?
Hidup berkelimpahan, keinginan tercukupi, rumah bertingkat, tanah dimana-mana, keliling dunia, dan banyak lainnya sering menjadi ukuran keberhasilan kesuksesan.
Ada juga jabatan tinggi yang katanya untuk motivasi giat bekerja. Profesi-profesi tertentu pun tak luput menjadi standar kesuksesan, membuat orang-orang berlomba-lomba meraih profesi yang diimpikanya.

Mereka yang melihat kilauan hidup orang lain pun berkomentar

“Dia mah enak hidupnya, rumah sudah punya, mobil juga ada, beruntung sekali dia.”

“Hebat dia sekarang, sudah menjadi bos.”

“Mantap ya dia, bisa jalan-jalan ke luar negeri.”

Ternyata, komentar-komentar kekaguman akan kesuksesan seperti itu sudah ada sejak dulu oleh orang-orang terdahulu. Ayat Al-qur’an menuliskan dalam surat Al-Qashsash yang berbunyi begini

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahan. Berkatalah orang-orang yang menghendaki dunia: semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia (Qarun) mempunyai keberuntungan yang besar.” (Surat Al-Qashash:79)

Melalui ayat tersebut, sedikit diketahui bahwa dahulu sebagaian umat manusia kagum dengan keduniawiaan Qarun. Mereka menganggap orang yang “Wah” dunianya adalah orang yang telah berhasil mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Mereka menjadikan standar kesuksesan apabila keduniawian seseorang itu bagus.

Semua penilaian itu pun terbawa hingga sekarang. Banyak orang termasuk aku, masih memandang hal-hal tentang keduniaan adalah standar kesuksesan. Rumah, mobil, prestasi, jabatan tinggi, hingga sekecil pakaian pun menjadi tolak ukur kesuksesan.

Parahnya, secara tidak sadar penilaian-penialaian keduniaan menjadi ukuran kebahagiaan, menggerogoti hakikat syukur, meracuninya dengan membanding-bandingkan tingkat kesusahan diri sendiri dengan orang lain.

Mengakui sebuah bentuk kesyukuran saat kita bisa makan sedangkan orang lain ada yang kelaparan. Mengucap rasa syukur ketika anggota badan lengkap saat melihat orang cacat. Hingga merendahkan profesi pemulung, menggantikanya sebagai motivasi belajar agar bekerja di profesi yang bukan pemulung.

Apabila kita lihat lebih dalam, terutama diri kita sendiri dalam keseharian, betapa banyak orang rajin sholat, puasa, dan melakukan ibadah lainnya tetapi masih menilai kesuksesan berdasarkan perkara dunia. Akhirnya komentar yang keluar dari mulut pun tentang dunia, kagum dengan orang yang berkelimpahan dunia, seperti kagumnya kaum dahulu terhadap qarun yang kaya.

Sadar atau tidak, adanya sikap kekaguman tersebut pertanda dalam hatinya masih terdapat kecintaan terhadap dunia, masih menjadikan dunia sebagai tujuan hidup utama. Samar-samar kecintaan kepada akhirat pun berkurang. Lalu bagaimana kabar cintanya terhadap Tuhan?

Semoga Allah selalu membimbing kita dalam jalan yang di ridhaiNya. Memasukkan dalam hati kita kecintaan terhadap akhirat di atas dunia. Semoga tujuan kita selalu dalam jalan menuju meraih cintaNya.

Baca juga
Kesalahan Fatal Bersyukur
Kata Senja untuk Hati yang Lelah

« »

© 2020 Teman Senja. Theme by Anders Norén.