Teman Senja

Hai, bagaimana senjamu hari ini?

Kenali 7 Tahapan Kesedihan agar Kita mudah Sabar

7 tahapan kesedihan memudahkan kita untuk sabar. Setiap kesabaran berfungsi menampung emosi yang tak menyenangkan yang datangnya dadakan.

Saat kesedihan datang, sabar selalu menjadi nasehat andalan. Memang sangat benar kalau sabar sikap terpuji yang berpahala. Namun sabar tidak mudah untuk dipraktekan. Apalagi kesedihan karena patah hati, perasaan kecewa, sendu, murung, kalut bertumpuk memenuhi hati.    

Sabar mudah diuacapkan tetapi sulit dilakukan. Hal itu wajar karena sabar bukanlah hal instan. Kesabaran kita terbentuk dari tatanan beberapa rasa lalu dibangun dengan bantuan waktu, sehingga sabar tak bisa langsung diada-adakan.

Menurut  Dr. Elisabeth Kübler-Ross pada bukunya tahun 1969, On Death and Dying, kesedihan mempunyai lima tahapan. Setiap tahapan ke tahapan lain bukan sebuah tingkatan, lebih seperti emosi-emosi yang ikut terlibat dalam kesedihan. Ahli psikologi lainnya juga berpendapat sama, ada juga yang menambahkan dua tahapan lain.

Tahapan-tahapan tersebut menuntun kesedihan menuju penerimaan. 7 tahapan kesedihan itu pula akan membantu kita memudahkan membangun kesabaran dalam menghadapi kesedihan.

1. Penolakan

Saat mendengar kabar yang tak diinginkan, seketika saat itu pula dalam diri kita menolak kabar pahit tersebut. Begitulah awal mula kesedihan. Tak ingin mempercayai kabar yang ada. Namun kalimat ketidakmungkinan tetap bermunculan terus menyangkal kenyataan.

“Saya merasa baik-baik saja”

“Hal ini tidak mungkin terjadi pada saya’’

“Mungkin saya sedang lelah’’

2. Emosi
Tahapan selanjutnya timbul perasaan emosi seperti perih, sakit, kecewa, marah, putus asa, lega, senang, dan sejenisnya. Emosi setiap orang berbeda-beda, begitu pula tingkat emosi yang dirasakannya. Ada yang biasa saja, dan banyak pula yang merasakaan perasaan emosi yang sangat dalam.

Pada saat ini juga kesabaran kita teruji, muncul perasaan panik atau khawatir sehingga keadaan kita sulit untuk tenang. Apabila hal ini terjadi, Tarik nafas pelan-pelan lalu hembuskan dengan perlahan. lakukan berulang hingga kepanikan dan kekhawatiran mereda.

Segala bentuk kesedihan membuat luka kasat mata. Rasa kehilangan akan tetap terasa. Maka dari itu, nikmati saja dan siap-siap menuju tahapan selanjutnya. 

Teman senja

3. Amarah

Pada tahapan ini, emosi marah lebih mendominasi. Penyangkalan terhadap kenyataan yang ada memicu amarah yang luar biasa banyak. Pikiran memproses semua informasi, mengumpulkan alasan bahwa apa yang terjadi tidak harusnya seperti itu. Perasaan tidak adil mengerayangi pikiran, membuncah melawan kenyataan pahit yang membuat sakit.

“Siapa yang harus dipersalahkan’’

“Kenapa saya? Ini tidak adil”

“Bagaimana semua ini terjadi pada saya?”

Amarah semakin meluap-luap dan memang lebih baik dikeluarkan dengan cara yang sabar yaitu tetap dalam kondisi aman. Aman untuk diri sendiri dan nyaman untuk orang lain. Bisa dengan menangis, meninju samsak atau cerita kepada orang terdekat. Ada juga yang meluapkan dengan menyibukan diri, menambah kegiatan yang produktif atau rebahan sampai pagi lagi. Bisa juga dengan berolahraga, makan, atau pun belanja.

Semua kegiatan tersebut memang aman dan nyaman, namun tetap ingat bahwa semua kegiatan tersebut hanyalah luapan. Kesedihan yang terjadi belum sepenuhnya selesai. Masih ada sisa emosi lainnya yang perlu kita pahami dan validasi.

Lebih bagus lagi menyisipkan rasa sabar dalam tahap ini, sehingga pikiran akan mengeluarkan amarah yang berlebihan dengan cara yang menyehatkan.

Kenapa dengan cara yang sehat?

Karena jiwa kita sedang sakit. Ibaratnya sedang terkena flu,  maka rawatlah dengan baik, istirahat yang cukup.  Tetap makan teratur karena kita membutuhkan tenaga ekstra untuk menopang jiwa menghadapi kesedihan yang ada.

4. Menyesal

Penyesalan hadir saat sedih atau berduka. Berharap semua hal yang terjadi hanya mimpi. Menyalahkan diri karena melakukan kesalahan sehingga semua hal buruk terjadi. 

Ingin sekali memutar waktu untuk kembali sedia kala. Ingin melakukan hal-hal yang saat itu terlewatkan begitu saja. Perasaan kecewa membasahi pipi, mengikis hati yang semakin terpuruk kedalam jurang keputus asaan yang sepi.

Di sisi lain masih ada alasan-alasan yang membelai hati sehingga tetap bertahan menghadapi penyesalan. Keputusasaan juga bisa menghadirkan harapan. Hal ini akan terjadi jika masih ada niat untuk perbaikan. Mungkin begitu salah satu cara sabar saat ditahapan penyesalan.

5. Stres sampai depresi

Kondisi ini terjadi saat semua emosi terkumpul menjadi satu, bisa juga saat emosi tertekan terlalu dalam. Pikiran terasa sangat berat, saking beratnya hingga tak tau sedang memikirkan apa.

Kadang timbul reaksi menarik diri dari sosialisasi, sering murung dan lebih memilih untuk mengurungkan diri dalam ruangan. Semua ciri-ciri tersebut juga tidak pasti, perlu adanya diagnosis dari ahli pskologi.

“Mati atau hidup semua sama saja”

“Tidak ada yang peduli dengan saya”

Perasaan yang berat lebih baik dinikmati sebentar saja, hal ini akan agar tidak semakin menekan pikiran. Apabila kita membiarkan tekanan menetap terlalu lama, semua emosi akan menyakiti hati amat dalam, bahkan sampai menyerang fisik seperti nyeri ulu hati, penyakit maag, meningkatkan asam lambung, nafas sesak dan lain sebagainya.

Saat tingkat emosi sudah mencapai tingkat stres atau depresi yang parah. Satu-satu caranya dengan bergerak dalam hal positif, banyak memberi bantuan dan pertolongan, isi dengan kebahagiaan sekecil apapun itu. Secara tidak langsung, semua cara tersebut termasuk sabar dalam menahan cobaan dan ujian. Karena Sabar bukan diam tetapi menahan dan tetap terus berusaha.

6. Keikhlasan

Tahapan keikhlasan berlangsung ketika kita mulai ‘mengiyakan’ hal buruk yang terjadi. Proses ini terasa saat dalam diri kita mau mencoba menerima segala kenyataan. Keikhlasan bukan tanda membuat hati kita kembali bahagia atau pun senang, tetapi lebih bisa memahami semua alasan, mencoba mengerti keadaan, dan pasrah.

“Saya akan bertahan untuk melihat anak saya wisuda”

“Saya akan melakukan apapun demi…”

Memang tidak mudah, namun kita memang perlu sabar. Bisa dengan cara memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kadang dengan memaafkan, sangat membantu mempermudah hati kita untuk tenang dan nyaman.

7. Penerimaan

Tahapan terkahir dari 7 tahapan kesedihan yaitu penerimaan. Hati kita sudah bisa menata emosi yang ada, memulihkan segala rasa keterpurukan dan mampu untuk bertahan. Rasa penerimaan membawa diri kita mampu menjalani kehidupan biasa lagi.

Secara tidak langsung, ada bonus untuk kita saat berhasil mencapai tahap ini yaitu ketahanan hati yang semakin meningkat. Kejadian-kejadian yang menyakitkan membentuk pengalaman yang sangat berharga juga menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan yang kadang begitu berat menurut kita.

Semua 7 tahapan kesedihan bisa tidak dilalui secara urut. Bahkan ada juga yang hanya melewati dua tahapan saja. Perbedaan-perbedaan ini dikarenakan setiap individu mempunyai jalan emosi yang berbeda-beda.

7 tahapan kesedihan tersebut juga membantu menyusun kesabaran menjadi bangunan baru. Bangunan kesabaran tersebut akan menampung emosi yang tak menyenangkan yang datangnya suka dadakan.

Setiap pengalaman kenyataan-kenyataan yang terjadi akan menciptakan kesabaran. Kumpulkan semua pengalaman untuk mendapatkan semua skill kesabaran.

Teman senja.

Bagikan pengalaman sabarmu disini, siapa tahu ada yang terbantu dengan cerita-cerita sabarmu yang menginspirasi 🙂

Referensi
Wikipedia.com
Dosenpsikologi.com   

#SquadBloggerODOP

Rekomendasi lainnya Tips Mengatasi Malas dengan Ikigai

« »

© 2020 Teman Senja. Theme by Anders Norén.