Dulu kata “Kapan’’ bermakna menanyakan waktu dan bisaku jawab semudah orang bertanya kepada, tetapi kini perlu waktu sekian menit untuk menjawab pertanyaan itu.

Saya adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang menikmati sensasi kata kapan. Entah sejak kapan kata itu mulai berdatangan dari segala arah, mulai keluarga, saudara, teman-teman, tetangga, hingga orang yang baru kukenal pun bertanya kapan.

Biasanya ketika pertanyaan pertama terucap selalu muncul pertanyaan berikutnya, terutama saat pertanyaan-pertanyaan yang memuat kata sensitif muncul secara reflek saya melontarkan kalimat “Kamu ngomongnya saru ih” laluku imbuhi “aku bercanda”. 

Saru merupakan kata yang berasal dari bahasa jawa yang berarti jorok atau tidak sopan. Penggunaan kalimat ini hanya kepada orang-orang yang sudah akrab dengan saya, kadang saya pakai kepada orang yang baru kukenal mencairkan suasana.

Awalnya saya sensitif sekali ketika orang bertanya dengan berawal kata kapan, apalagi orang yang bertanya adalah orang seperjuangan yang sudah lulus. “Kemarin2 noleh pun enggan, sekarang mentang-mentang sudah lulus nanya terus” kata hatiku yang penuh aura negatif. Begitulah saya pada waktu itu, tertekan, sedih, letih, dan semua emosi berkumpul menjadi satu.

Waktu adalah perantara dari Rabbku menjadi penyembuhku. Sekarang, kata kapan tak segelap dulu. Saya menyadari akan satu hal yaitu semakin sering orang bertanya, sebanyak itulah perhatian yang diberikan kepadaku.  keluarga, saudara, teman-teman, tetangga, dan orang yg tak kukenal pun menjadi semangatku menyelesaikan satu per satu proses.

Memang benar tak haruslah mendengarkan orang lain, namun bukan berarti tutup telinga lalu pergi, tetapi terimalah kata-kata itu. Saya mencoba melihat kata ‘kapan’ dari sisi yang berbeda, sisi yang mengantar hati menjadi lebih baik, menjadi kuat, menjadi bijak, dan tak lupa menjadi hati manusia yang mengabdi kepada rabbi.

Seseorang berkata kepada saya, kapan adalah sesuatu yang ditunggu dan sabar adalah sesuatu yang menemaninya.

Begitulah akhir saya dengan kata kapan, nyatanya sensasi pertanyaan kapan sepertinya memang tak pernah usai, Saat ini saya sedang menuggu lulus dan banyak orang juga menunggu kapan saya lulus, setelah saya lulus orang-orang pun menunggu lagi dan menanyakan kapan lagi. Jadi, mari usaikan dengan sama-sama mendoakan. Berharap kepada orang-orang yang menungguku bertanyalah kapan dengan mendoakan semoga dimudahkan dan banyak-banyak bersabar. ]� w*