Waktu menunjukan pukul 22:00 saatku memasuki kamar kos. Hari yang melelahkan. Kurebahkan tubuhku diatas kasur sedang pikiranku masih melayang kejadian siang tadi. Kita baru saja menemani Fany yang patah hati diputus pacarnya. Ternyata Fany tak sekadar diputus, cowoknya sudah mencari cewek lain sebelum putus. Tiga tahun berjuang kuliah dan bekerja part time di tempat kerja yang sama, lenyap begitu saja dengan luka bersayat.

Setidaknya sudah ada kejelasan, dua bulan ini nafsu makannya hilang dan semakin kurus. Tiba-tiba nada hpanggilan masuk di handphoneku berbunyi. “Len, kamu dimana…? Fany hilang ….” kata Maya setengah berteriak.

“Tenang May, mungkin lagi di toilet, cek dulu saja” kataku menenangkan.

“Tidak ada Len … dia tak ada dimanapun di semua ruangan. Kamu sangat tahu Fany anaknya nekatan, aku takut dia melakukan hal yang tidak-tidak. Kita sudah liat sendiri tadi siang Fany sangat depresi sekali” kata Maya panik.

“Tenang May, tenang dulu, kamu masih di warnetkan? Tetap disitu ya, aku kesitu” jawabku cepat, kumatikan handphone lalu menuju parkiran motor.

Aku menuju tempat kerja Fany. Sebuah toko yang menyediakan kamar kos untuk staffnya. Kulihat Sasa sedang menggantikan shift Fany di bilik kasir. Baru saja kakiku masuk dua langkah, Maya langsung menarik tanganku keluar. “Len, cepat susul Fany, baru saja aku dapet info dari teman mantanya, Fany ada di basecamp” kata Maya.

Kebetulan, diantara kami berempat, hanya aku yang membawa motor diperantauan ini. Butuh waktu lima menit aku sampai di lokasi. Sesampainya di sana, kulihat Fany duduk di depan seorang cewek sedang menangis sambil menutup muka. “Len, tolong anterin Fany pulang ke warnet” kata mantannya yang duduk di samping cewek tersebut.

Ku tepuk bahunya sambil berkata ”Ayo Fan, kita pulang dulu”. Dia tak menggubrisku. “Selamat menikmati kebahagiaan dengan merebut kebahagian orang lain” kata Fany dengan suara bergetar menahan amarah. Lalu Fany berdiri, kami pun keluar dari ruangan itu.

Kupegangi tubuhnya yang mulai lemas itu, “Kita makan dulu yuk Fan” kataku. Dia menggeleng. “Seharian ini kamu belum makan Fan”. Dia tetap diam dan menggeleng.

Sesakit inikah patah hati, kirain hanya ada di drama televisi dengan peran yang dilebih-lebihkan. Sekarang aku melihat sendiri kisah nyata itu.  

Aku tak mau patah hati. Pikirku saat itu. Akhirnya kuputuskan ke kos Fany saja.

Lanjutan Perpisahan Lagi

Rekomendasi untuk kamu
Kisah Seorang Penulis: Jangan Berusaha

#ODOPBatch7