Sesakit inikah patah hati, kirain hanya ada di drama televise sja dengan peran yang dilebih-lebihkan. Sekarang aku melihat sendiri kisah nyata itu. Aku tak mau patah hati. Pikirku saat itu.

Akhirnya kuputuskan ke kos Fany saja. Barangkali masakan Sasa bisa mengalahkan rasa patah hati Fany.

Maya sudah menunggu kedatangan kami dengan raut kecemasan. Ia pun memeluk Fany lalu mengajaknya ke kamar. Sasa yang sudah menyelesaikan shift pengganti, juga  menyusul ke kamar.

Kami pun berkumpul. Siap mendengarkan curhatan Fany. Ceritanya begini.

Malam itu, ketika Sasa sedang di kamar mandi, Fany sendirian di kamar. Seperti mendapatkan kekuatan entah dari mana, Fany sangat ingin pergi ke basecamp tempat mantannya biasa nongkrong. Mungkin memang benar, firasat perempuan sangat kuat. Ia pun beranjak pergi jalan kaki menempuh jarak hampir 1 km melewati hutan mini kampus yang tak ada penerangan satu pun. Sebuta itukah cinta, bisa mengubah Fany seorang yang sangat takut kegelapan menjadi wanita tangguh tak peduli keadaan.

Ia hanya ingin minta kejelasan. Begitulah penjelasannya dengan nada bergetar. Ia ingin tahu wanita mana yang tega menyakiti wanita lain. Ia juga ingin tahu alasan pacarnya selingkuh. Tak tega aku melihat kesedihannya,  kami pun menenangkan dia. “Kadang kita dipertemukan tak untuk di satukan tetapi hanya sebatas mengenal. Engkau telah ditunjukan jalan yang terbaik olehNya. Memang kita menginginkanya, tetapi takdir lebih tau mana yang engkau butuhkan” kataku menghibur.

“Tadi gelap banget loh Fan, apalagi lampu peneranganya belum di benerin, kamu berani sekali” lanjutku.

“Aku tak peduli Len, namun sekarang terasa merindingnya, hiiiy.. untung tak ada Kunti yang digosipkan itu… “ jawab dia sambil memegangi tangannya.

Kita pun tertawa bersama.

6 bulan berlalu, kesakitan perpisahan dengan luka masih terasa. Fany lebih rajin dengan tugasnya, ia pun dipercayai memegang amanah keuangan di tempat kerjanya. Ia menambah segala aktivitas agar tak ada waktu untuk mengingat luka yang masih basah. Kami pun sering berkumpul. Kamarku menjadi tempat favorit mereka.

“Laper nih Sa, masakanmu pasti enak banget deh, pas banget buat perutku”  celetuk Maya.

“Aku kangen sambalmu yang selalu bikin nagih itu Sa” Sahuku.

“Si Fany baru aja kirim pesan nih, katanya mau kesini, titip makan aja sama dia, kalian mau titip apa?” kata Maya. “penyet terong ati rempela” jawabku cepat. “Aku mie dok dok level 2 aja” sahut Sasa

“Sepertinya Fany sudah mulai baikan” kataku mulai pembicaraan.

“Dia mengubah kesakitanya menjadi hal yang tak sia-sia. Bab pembahasanya dah disahkan tadi siang, tinggal penutupnya aja. Sepertinya dia pertama yang akan wisuda diantara kita, ” balas Sasa.

“Seriusan…..?” teriak aku dan Maya. “Kita langsung tanya aja sama Fany” jawab Sasa singkat.

“Assalamu’alaikum nona-nona cantik yang hobi banget nitip princess, pesanannya sudah sampai” kata Fany yang baru saja masuk kamarku.

“Wa’alaikumsalam idolaku … Aku telah lama menantimu …” teriaku tak sabar.

Lalu kami pun bersama-sama menyantap makanan sambil berbincang-bincang.

Tepat sekali apa yang diceritakan Sasa. Sebentar lagi dia akan lulus dan ikut wisuda bulan depan. Perlahan ia pun bercerita  dengan mata yang berkaca-kaca akan bekerja di kota kelahirannya.

Kamarku mendadak sunyi dengan keheningan. Kami pun terdiam cukup lama. Tak ada satu pun kata terucap. Hanya setetes air mata keluar mewakilkan  sedih dan bahagia yang mengaduk-aduk kedalaman rasa.


“Biar pun raga tak bisa bersama, masih ada grup WA.“ kata Maya sambil memeluk Fany.

“hehe… masih bisa telfon grup juga. Semoga segera mendapatkan kerja yang kamu inginkan ya Fan” kataku.  “Kita juga masih bisa berkumpul. Toh jarak ke rumahmu cuma 1,5 jam aja” celetuk Sasa. Lalu kami pun berpelukan dilanjut dengan bincang-bincang malam.

Suasana kamar kembali hangat tetapi hatiku merasa sesak.

Sebentar lagi, tak hanya Fany yang akan pergi, Semua termasuk aku akan lulus dan kembali ke rumah masing-masing. Katanya bukan jarak yang memisahkan hanya waktu yang memberi jeda untuk rindu. Awalnya kita berempat disatukan oleh waktu, sekarang dipisahkan juga oleh waktu.  Sebercanda itukah? Setidaknya aku masih ingin berdoa, semoga kelak di akhirat nanti kita akan tetap bertemu.

Sebelumnya Cerpen Perpisahan

Rekomendasi untuk kamu

Kisah Seorang Penulis: Jangan Berusaha

Alasan Siswa Berprestasi bukan Orang Mengubah di Dunia

#ODOPBatch7