Teman Senja

Hai, bagaimana senjamu hari ini?

Pertanyaan Biasa tapi Bisa Berbahaya

Perhatian dan kepedulian yang diberikan orang lain memang menyenangkan namun kadang menyakitkan. Apalagi kepedulian dengan bentuk pertanyaan. Ada yang benar-benar peduli, ada juga seperti menghakimi. Bahkan ada juga menjadi penyebab masalah.

Seperti kisah berikut ini

Seorang kakak laki-laki menengok adik perempuannya yang melahirkan, ia bertanya

“Dapat hadiah apa dari suamimu?”

“Tidak ada Kak” jawab si Adik.

“Masak sih, istrinya baru saja melahirkan kok tidak dikasih hadiah? Aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa” Balas si Kakak.

Sorenya, ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk dirumah, keduanya lalu terlibat pertengkaran. Beberapa waktu kemudian, antara suami istri ini terjadi perceraian.

Ada juga kisah lain disuatu perkumpulan arisan, seseorang yang bertanya kepada pemilik rumah

“Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit ? bukankah anak-anakmu banyak ?”.

Satu pertanyaan mengubah sebuah rumah yang tadinya terasa lapang mulai dirasa sempit. Penghuninya mencoba membeli rumah dengan kredit. Pengeluaran bertambah, ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang.

Di lain kisah, ada seorang teman bertanya kepada teman yang lain “Berapa gajimu sebulan kerja di toko itu?”

 “1,5 juta rupiah” jawabnya.

“Cuma 1,5 juta rupiah? sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu ?” balasnya

Temannya berpikir, lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko. Namun, permintaanya ditolak. Ia pun tak bersemangat, lama-lama menjadi tak menyukai pekerjaanya. Setelah itu, sering terjadi kesalahan yang berakibat fatal. Akhirnya pemilik toko memecatnya. Kini ia malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

Ada juga kisah seseorang bertanya pada kakek tua “Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan ?”

Si kakek menjawab : “Sebulan sekali”.

Yang bertanya menimpali : “Wah keterlaluan sekali anak2mu itu. Diusia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering”.

Hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat rela terhadap anak2 nya. Ia sering menangis,  kesehatan semakin memperburuk kondisi badannya.

Kurangnya kehati-hatian menjadikan sebuah pertanyaan berniat kepedulian malah memperburuk keaadan.

Mencampuri kehidupan orang lain. Mengecilkan dunia mereka. Menanamkan rasa tak rela pada yang mereka miliki. Mengkritisi penghasilan dan keluarga mereka dan sebagainya.

Bila ada bom yang meledak cobalah introspeksi diri, bisa jadi kitalah yang menyalakan sumbunya. Perkataan terlihat biasa malah justru penyebab bahaya.

Manusia punya satu mulut dengan dua gerakan yang berbeda. Gerakan membuka untuk mengungkapkan rasa dan  menebarkan cinta. Gerakan satunya untuk mengatup mulut menjadi diam ketika hendak berbicara tak sopan.

Ada yang bilang “Kata adalah do’a”.  Mari gunakan untuk mendo’akan saja dan selalu bersyukuri apa yang kita punya untuk hidup bahagia bersama.

#Reminder #ODOPBatch7

Penulisan ulang

Share whatsapp by Siulingaline Moeharjo

« »

© 2020 Teman Senja. Theme by Anders Norén.