Teman Senja

Hai, bagaimana senjamu hari ini?

Dua Sudut Pandang dari Pemberi Kepada Peminta-minta

Wilayah kampus menjadi ladang rezeki bagi banyak orang. Beragam peluang tersedia untuk orang yang berkreasi dan mau mencoba. Ada penjual makanan dan minuman, pakaian, alat tulis, peralatan, hingga pengamen yang menjajakan suaranya dengan alat musik sederhana. Semua mendapatkan manfaaatnya termasuk para peminta-minta.

Ada dua sudut pandang yang menggelitik dari para pemberi untuk peminta-minta. Satu sudut fokus melihat tulisan atau permohonan, sudut yang lain melihat orang yang membawa tulisan atau pemohon.

Ketika melihat kardus bertulis ‘Peduli Anak Yatim’ dibawa seseorang yang terlihat sehat dan bugar, muncul berbagai macam persepsi yang membuat tangan enggan memberi.

“Kok tidak malu ya, masih sehat tetapi meminta-minta”.

“Enak sekali caranya mendapatkan uang, sudah dapat berapa ratus tuh”.

“Paling penipuan nih, untung sekali dia”.
“Jangan dikasih biar mandiri”.

Bentuk persepsi ini berfokus pada orang yang membawa tulisan. Melihat keadaan orang yang sehat bugar membuahkan sudut pandang  yang malah meracuni hati. Parahnya, peminta-minta tadi menjadi lauk renyah lidah bagi para pemberi yang hanya peduli tanpa aksi memberi.

Adapula orang mengambil sudut pandang yang sama dengan cara yang berbeda. Keadaan sehat dijadikanya motivasi, lebih giat bekerja agar tak menjadi peminta-minta.

Lebih bagus lagi menjadikan motivasi giat bekerja agar dapat menolong mereka yang membutuhkan.

Sudut pandang lain tertuju pada  tulisan ‘Peduli Anak Yatim’. Ada beberapa foto menghiasi tulisan tersebut. Sekelompok anak yang berdiri di depan sebuah rumah. Ada pula kegiatan makan bersama dan kegiatan-kegiatan lain. Kesan pertama yang diperoleh mata adalah rasa iba. Otak merespon dengan memutar pengetahuan anak yatim yang kelaparan tanpa kasih sayang orang tua. Kemudian hati menggerak tangan ke dompet, mengambil selembar uang yang dimasukannya ke kardus.

Tak ada kata yang terucap hanya senyuman sambil berdoa “Semoga bisa menolong mereka”. Sang peminta pun mengucapkan terima kasih, kadang juga ditambah dengan doa dan harapan baik untuk sang pemberi.

Selain dua sudut pandang tadi, ada pula sudut pandang lain yang berbeda. Para peminta tersebut berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Terkadang jam sepuluh malam masih terlihat berjalan sepanjang jalan. Tanganya tetap kuat menyodorkan kardus dengan ucapan “Mohon sedekahnya”. Langkah lelahnya pun tetap berlanjut seperti sudah terbiasa. Begitulah cara mereka berusaha.

Secara tidak sadar, setiap sudut pandang tentang peminta menjadi faktor keputusan memberi atau tidak. Keputusan memberi bisa berdampak baik. Barangkali pemberian yang tak seberapa malah sangat dibutuhkan mereka. Namun, tidak memberi pun juga baik.  Apalagi melihat peminta yang masih sehat dikhawatirkan timbul ketergantungan. Bisa juga memberikan hal yang tak berefek ketergantungan yaitu dengan bentuk ucapan semangat atau doa.

Apapun sudut pandangnya, apapun bentuknya, bijaklah dalam penggunaanya.

« »

© 2020 Teman Senja. Theme by Anders Norén.