“Kak, aku putus sama pacarku semingguan ini. Apa aku salah ya karena bilang aku habis Onani ke pacar?”
“Mbak, aku sedih. Aku diblokir sama doi. Pernah sih aku jujur masalah habis nonton bokep”.

Perlu banget nggak sih kita harus jujur mengenai riwayat aktivitas seks kita kepada pasangan a.k.a pacar ? Jawabannya tentu bervariasi. Banyak sekali yang harus kandas di tengah jalan karena jujur terhadap pasangan mengenai riwayat aktivitas seks baik berupa masturbasi, nonton bokep hingga aktivitas fisik dengan orang lain.

Terdapat perbedaan pandangan mengenai seks antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini yang menjadi jurang antara laki-laki dan perempuan. Perempuan cenderung melihat seks sebagai sesuatu yang agung, sakral dan spesial. Sedangkan laki-laki melihat seks lebih kepada yang bersifat alami dan normal. Keintiman bagi perempuan bisa dicapai dengan perhatian, ucapan dan sedikit diskusi, namun laki-laki melihat keintiman harus melalui sentuhan skin to skin.

Keterbukaan pikiran perempuan mengenai seks masih sangat terbatas ketimbang laki-laki. Selain dikarenakan minimnya akses pendidikan seks usia dini hingga pendidikan seks pranikah juga disebabkan karena lingkungan. Perempuan yang membicarakan seks secara terbuka dianggap binal dan tidak bertata krama. Iklim patriarki masih jelas tergambar. Namun pada dasarnya baik perempuan maupun laki-laki mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan pengetahuan mengenai seks. Pun dalam mengangkat topik ini dilingkaran pembicaraan.

Lalu, haruskah kita jujur mengenai aktivitas seks kepada pasangan ? Kegalauan ini sering menyelimuti pasangan yang hendak melangkah ke jenjang yang lebih serius alias pernikahan. Ada tipe hubungan yang ingin sebelum nikah benar-benar tidak ada rahasia dimana riwayat seks masuk menjadi salah satu topik pembahasan. Tipe pasangan ini biasanya merupakan pasangan dengan riwayat aktivitas seks yang tidak terlalu banyak dan berasal dari lingkungan yang cukup memandang penting kejujuran dalam membangun rumah tangga serta salah satu pasangan atau keduanya mempunyai grade tertentu mengenai pasangan ideal salah satunya adalah mengenai riwayat aktivitas seks. Keduanya mempunyai batas ambang toleran terhadap aktivitas seks yang pernah dialami, jika lebih maka bukan tidak mungkin hubungan akan berakhir. Sebelum anda benar-benar jujur mengenai riwayat aktivitas seks anda, pastikan anda dan pasangan sudah cukup dekat, intim, dan saling terbuka terutama masalah seks.

Ada pula tipe pasangan yang enggan membicarakan mengenai riwayat aktivitas seks kepada pasangan. Selain karena sudah saling percaya dan melihat dari lingkungan pasangan yang kemungkinan banyak memberikan gambaran mengenai siapa pasangan sebenarnya. Pasangan tipe kedua ini lebih melihat hubungan dibangun atas dasar saling menerima. Selain karena kedua individu sudah memiliki jam terbang yang tinggi mengenai pengalaman hidup dan tempaan sosial.

Perempuan cenderung menutupi aktivitas seksnya, karena tidak ingin dianggap rendah karena hal tersebut. Jika perempuan mampu jujur kepada pasangannya, sungguh suatu kemajuan karena berhasil merobek batas yang selama ini membelenggu. Masalah keberlangsungan hubungan tentu akan dipengaruhi oleh pola pikir laki-laki yang kemudian berdasar kesepakatan bersama.

Kerangka berpikir perempuan akan rusak ketika pasangan menyatakan dengan jujur mengenai aktivitas seksnya. Akan merasa jijik dan terkesan tidak menghargai pasangan. Kok bisa ? Jelas hal ini dipengaruhi oleh lingkungan sebagaimana dijelaskan pada paragraf diatas. Seks sebagai suatu yang sakral dan suci harus ternodai karena sesuatu aktivitas yang menurut kacamata tertentu itu merupakan hal yang tidak baik.

Jujur atau tidak jujur kepada pasangan itu pilihan. Pertimbangkan dengan baik apa sisi positif dan negatif dari tindakan yang akan diambil ketika jujur mengenai riwayat aktivitas seks anda. Jadilah pasangan sehat dengan saling percaya. Tidak ada pasangan yang sempurna, tapi pastikan anda mendapatkan pasangan yang saling menerima. Renungkan dengan baik sudah sedekat apa hubungan kalian. temansenja-psn